Kenapa masih mikirin dia?

Konteks: hubungan asmara yang berakhir akibat hal-hal selain maut, dan putus komunikasi.

Sebetulnya permasalahan kamu bukan berakar pada kenangannya, bukan juga karena kamu masih cinta, masih sayang.

Cinta nggak harus memiliki, itu pasti kamu sudah sering dengar. Yang jarang kamu dengar:

Nggak memiliki yang kita cintai itu nggak sakit sama sekali.

Kemungkin pertama yang bikin kamu terus mengenangnya itu karena kamu masih merasakan sakitnya saat harapan kamu hancur. Lagi asik di atas awan, tiba-tiba awannya turun jadi hujan dan kamu jatuh terjerembab di permukaan bumi, atau kecantol di ranting-ranting pohon sengon…

Terlepas dari apapun yang kamu pikirkan tentang dia, sesungguhnya kamu sedang kesulitan menerima kenyataan. Kamu masih mempertahankan harapan-harapan akan apa yang semestinya terjadi dulu, sekarang, esok, atau ketiganya.

Selama kamu masih belum menerima kenyataan, selama itu pula otakmu akan terus memroses data, info, memori terkait dia dan hubungan kamu tentang dia. Tujuannya apa? Untuk menemukan jawaban, solusi dari apa yang sedang kamu rasakan.

Kamu terluka, otomatis otak kamu mencari solusi. Tapi apapun solusinya, kamu nggak bisa terima. Otak kamu nyari solusi lain lagi, lagi, dan lagi.

Kalo kamu pikir kamu terbayang-bayang dia terus karena dia juga terbayang-bayang kamu terus, dan kalian berdua terhubung secara energetic, sorry ya… Kemungkinan besar kamu kena tipu khayalanmu sendiri, alias halu. 95% kemungkinannya dia nggak menderita sakit cinta seperti kamu. Kalo iya dia menderita, kamu pasti akan melihat bukti yang bisa dilihat, mungkin juga discreenshot, dan dirayakan.

Kemungkinan kedua… kamu terus mengenangnya karena itu adalah kebiasaan otakmu. Kalo kamu katakan ke dirimu sendiri bahwa mengenang dia itu nggak baik, otak kamu makin nggak terima.

“Wong biasanya aku diijinkan mikirin orang itu kenapa sekarang nggak?”

Kira-kira begitu protesnya otak kamu…

Otak nggak peduli itu kenangan pahit, kecut, asin, dia cuma terbiasa mikirin orang itu, mengulang-ulang rekaman yang beraroma si dia. Dan kamu tentu tau menyingkirkan kebiasaan yang menyenangkan itu bukan hal yang mudah, tapi ini bukan berarti mustahil. Musti pelan-pelan, dan musti sabar.

Mungkin kamu bisa coba jadikan kegiatan mengenang dia itu sebagai hadiah buat otak. Ijinkan otakmu mengenang dia, pahit manisnya dsb, hanya pada malam hari (atau seminggu sekali, atau gimana lah kamu ngaturnya).

Memang ini perlu kendali kuat atas isi kepala. Kadang kita kalah, bahkan di awal mungkin bakal banyak kalahnya. Dan memang menaklukkan otak itu bukan pertandingan single round. Pertandingan tinju aja butuh beberapa ronde! Kalo kalah di satu ronde, katakan pada otak, “Gpp, besok kita main lagi yaaa!”

Lalu tersenyumlah.

Jadikan kegiatan mengenangnya itu sebagai sesuatu yang sakral, bukan sesuatu yang kamu benci. Karena pada kenyataannya, otak kamu suka.

Leave a Reply